Senin, 20 Januari 2020

TRANSFORMASI PABRIK GULA SOLORAYA



           Kawasan Soloraya terhitung ada 6 pabrik gula yang masih aktif produksi maupun yang sudah tidak beroperasi. Pabrik gula tersebut meliputi pabrik gula Mojo Sragen, pabrik gula Kedung Banteng Sragen, pabrik gula Tasikmadu Karanganyar, pabrik gula Colomadu Karanganyar, pabrik gula Gondang Baru Klaten, pabrik gula Gembongan Kartasura Sukoharjo.
Pabrik gula yang telah lama tidak beroperasi kini diubah menjadi suatu destinasi wisata yang kekinian. Pabrik gula yang mengalami transformasi antara lain pabrik gula Colomadu Karanganyar, pabrik gula Gondang Baru Klaten, pabrik gula Gembongan Kartasura Sukoharjo.
Pabrik gula (PG) Colomadu terletak di Karanganyar, Jawa Tengah. Didirikan pada tahun 1861 pada masa Sultan Mangkunegaran IV. Pada tahun 1998, PT Perkebunan Nusantara (PTPN)-IX yang merupakan pengelola pabrik gula telah menutup operasional pabrik sehingga bangunan ini tidak difungsikan lagi. Padahal semasa beroperasi, bangunan yang berusia sudah lebih dari 100 tahun tersebut memiliki fungsi penting sehingga tidak heran jika ditetapkan menjadi salah satu warisan cagar budaya terpenting di Karanganyar, Jawa Tengah.
“Selama operasional pabrik berhenti, PG Colomadu tidak terurus dan kondisinya mengalami kemerosotan akibat terbengkalai”, ujar Andi, satpam De Tjolomadoe. Semak belukar dan pohon liar tumbuh mendominasi seluruh area pabrik. Kemudian PG Colomadu kini telah direnovasi menjadi tempat wisata yang kekinian. De Tjolomadoe namanya. Tempat tersebut menjadi sebuah destinasi wisata heritage sebagai pusat kebudayaan.
Selain PG Colomadu, PG Gembongan atau biasa disebut PG Kartasura juga mengalami transformasi. “Pabrik Gula peninggalan zaman Kolonial Belanda ini luasnya sekitar 2,2 hektare itu berdiri pada 1892” ujar Widodo, juru jaga PG Gembongan . Bangunan itu dilengkapi cerobong asap setinggi lebih dari 25 meter yang menjadi keunikan dan memiliki nilai histori yang tinggi.
PG Gembongan telah lama berhenti beroperasi. Kondisi yang tampak dari luar yakni hanya bangunan tua yang yang kosong dan sepi dipenuhi belukar. Tembok-tembok yang catnya sudah terkelupas, besi yang penuh dengan karat juga menjadi pemandangan ketika menengok PG tersebut. Pada tahun 2018 dilakukan revitalisasi menjadi tempat wisata. Kompleks bangunan bekas PG Gembongan diubah menjadi lokasi destinasi wisata heritage baru di Soloraya.
Ada satu lagi PG yang mengalami transformasi di area Soloraya, yakni PG Gondang, Klaten. Pabrik Gula Gondang Baru Klaten, termasuk dalam wilayah Desa Gondang Baru, Kecamatan Jogonalan, Kabupaten Klaten. Setelah mengalami transformasi Pabrik gula Gondang, Klaten menjadi museum Gula Jawa tengah.
Di dalamnya terdapat peralatan dari pabrik gula, serta beberapa foto penunjang. Foto-foto penunjang, antara lain: foto pabrik gula lama, foto upacara giling pertama, tiruan visualisasi ruang administrasi lama dan lain-lain. “Pendirian Museum Gula Jawa Tengah dilandasi oleh pertimbangan bahwa perkembangan industri sebagai data untuk pengembangan lebih lanjut”, ujar Danu . Gagasan pertama dimulculkan oleh Gubernur Propinsi Jawa Tengah yang kala itu dijabat oleh Bapak Soepardjo Roestam dengan dukungan penuh dari direktur utama PTP. XV – XVI (persero).

Selasa, 14 Januari 2020

Cidenty Dea Crismonia Dwijayati
A310160204


GEDUNG EDUTORIUM UMS DIKLAIM 
MENJADI GEDUNG TERMEGAH DI JAWA TENGAH


Gedung yang disebut sebagai edutorium, yaitu gedung pertemuan yang mengandung aspek pendidikan. Sofyan Anif menginginkan gedung itu akan tetap dikunjungi masyarakat dari berbagai daerah setelah digunakan untuk Muktamar ke-48 Muhammadiyah. Karena itu, UMS akan melengkapi gedung pertemuan itu dengan Museum Peradaban Islam Asia Tenggara. Gedung itu juga akan disewakan untuk umum.


Kedua, Edutorium UMS itu juga untuk pertemuan internal universitas. Misalnya wisuda UMS bisa langsung digelar serentak dalam sekali pelaksanaan, tidak seperti selama ini yang harus dipecah karena keterbatasan kapasitas lahan.

Ketiga, Edutorium UMS itu juga bisa untuk olahraga. Nantinya, gedung ini akan dilengkapi sportorium sehingga bisa untuk badminton, voli, dan sebagainya di lantai I. Sementara itu gedung pertemuan di lantai II dan lantai III bisa menjadi balkon.

Setelah bangunan dipotong menjadi tiga lantai, dari semula empat lantai, sekarang anggaran yang diperlukan berkisar Rp230-an miliar. Harapannya dengan dibangunnya gedung ini akan mampu mengatasi salah satu masalah UMS yaitu penyediaan tempat layanan mahasiswa terkait wisuda. Selain itu karena pembangunan ini dinilai merupakan amanah muktamar, maka nanti diharapkan bisa representatif untuk muktamar.

“Sesuai dengan visi UMS, akan menjadi pusat pengembangan iptek islami dan memberi arah perubahan. Salah satu perubahan islami itu nanti dalam bentuk museum. Dulu saya minta Museum Muhammadiyah, tapi ternyata sudah ada di UMY.”

Sedangkan Museum Peradaban Islam Asia Tenggara ini dinilai persis seperti yang diidam-idamkan pendiri UMS yaitu Moh. Djazman. Dulu Djazman dikatakan pernah berkeinginan UMS menjadi pusat peradabam Islam Asia Tenggara, meski ketika itu tak menyebut museum.

Cidenty Dea Crismonia Dwijayati
A310160204


KILASAN GERAKAN LITERASI NASIONAL

Sejak  tahun 2016 Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan menggiatkan Gerakan Literasi Nasional (GLN) sebagai bagian dari implementasi dari Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 23 Tahun 2015 tentang Penumbuhan Budi Pekerti. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan membentuk kelompok kerja Gerakan Literasi Nasional untuk mengoordinasikan berbagai kegiatan literasi yang dikelola unit-unit kerja terkait. Gerakan Literasi Masyarakat, misalnya, sudah lama dikembangkan Direktorat Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini dan Pendidikan Masyarakat (Ditjen PAUD Dikmas), sebagai tindak lanjut dari program pemberantasan buta aksara yang mendapatkan penghargaan UNESCO pada tahun 2012 (angka melek aksara sebesar 96,51%). Sejak tahun 2015 Ditjen PAUD Dikmas juga menggerakkan literasi keluarga dalam rangka pemberdayaan keluarga meningkatkan minat baca anak.
Bersamaan dengan itu, Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah mengembangkan Gerakan Literasi Sekolah untuk meningkatkan daya baca siswa dan Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa menggerakkan literasi bangsa dengan menerbitkan buku-buku pendukung bagi siswa yang berbasis pada kearifan lokal. Tahun 2017 ini Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan (Ditjen GTK) menggagas Gerakan Satu Guru Satu Buku untuk meningkatkan kompetensi dan kinerja guru dalam pembelajaran baca dan tulis.
Pada tahun 2017 Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa diberi amanah menjadi Koordinator GLN. Beberapa kegiatan yang dilakukan antara lain penajaman konsep GLN, Diskusi Kelompok Terpumpun dengan pakar dan pegiat literasi, lokakarya penyusunan peta jalan, panduan, dan materi pendukung GLN, Diskusi Kelompok Terpumpun dengan Kementerian/Lembaga, koordinasi dan sinkronisasi kegiatan lintas unit utama, dan persiapan pencanangan GLN yang akan digelar bertepatan dengan Hari Sumpah Pemuda pada tanggal 28 Oktober 2017 di Plasa Insan Berprestasi, Gedung Ki Hajar Dewantara, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.


Gerakan Literasi Nasional merupakan upaya untuk memperkuat sinergi antarunit utama pelaku gerakan literasi dengan menghimpun semua potensi dan memperluas keterlibatan publik dalam menumbuhkembangkan dan membudayakan literasi di Indonesia. Gerakan ini akan dilaksanakan secara menyeluruh dan serentak, mulai dari ranah keluarga sampai ke sekolah dan masyarakat di seluruh wilayah Indonesia. Meningkatkan literasi bangsa perlu dibingkai dalam sebuah gerakan nasional yang terintegrasi, tidak parsial, sendiri-sendiri, atau ditentukan oleh kelompok tertentu. Gerakan literasi tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah, tetapi juga tanggung jawab semua pemangku kepentingan termasuk dunia usaha, perguruan tinggi, organisasi sosial, pegiat literasi, orang tua, dan masyarakat. Oleh karena itu, pelibatan publik dalam setiap kegiatan literasi menjadi sangat penting untuk memastikan dampak positif dari gerakan peningkatan daya saing bangsa.
Gerakan Literasi Nasional membagi menjadi 6 literasi dasar, yaitu literasi baca tulis, numerasi, sains, finansial, digital, budaya dan kewargaan. Salah satu di antara enam literasi dasar yang perlu kita kuasai adalah literasi baca-tulis. Membaca dan menulis merupakan literasi yang dikenal paling awal dalam sejarah peradaban manusia. Keduanya tergolong literasi fungsional dan berguna besar dalam kehidupan sehari-hari. Dengan memiliki kemampuan baca-tulis, seseorang dapat menjalani hidupnya dengan kualitas yang lebih baik. Terlebih lagi di era yang semakin modern yang ditandai dengan persaingan yang ketat dan pergerakan yang cepat. Kompetensi individu sangat diperlukan agar dapat bertahan hidup dengan baik.
Membaca merupakan kunci untuk mempelajari segala ilmu pengetahuan, termasuk informasi dan petunjuk sehari-hari yang berdampak besar bagi kehidupan. Ketika menerima resep obat, dibutuhkan kemampuan untuk memahami petunjuk pemakaian yang diberikan oleh dokter. Jika salah, tentu akibatnya bisa fatal. Kemampuan membaca yang baik tidak sekadar bisa lancar membaca, tetapi juga bisa memahami isi teks yang dibaca. Teks yang dibaca pun tidak hanya katakata, tetapi juga bisa berupa simbol, angka, atau grafik.
Literasi numerasi adalah pengetahuan dan kecakapan untuk (a) menggunakan berbagai macam angka dan simbol-simbol yang terkait dengan matematika dasar untuk memecahkan masalah praktis dalam berbagai macam konteks kehidupan sehari-hari dan (b) menganalisis informasi yang ditampilkan dalam berbagai bentuk (grafik, tabel, bagan, dsb.) lalu menggunakan interpretasi hasil analisis tersebut untuk memprediksi dan mengambil keputusan.
Secara sederhana, numerasi dapat diartikan sebagai kemampuan untuk mengaplikasikan konsep bilangan dan keterampilan operasi hitung di dalam kehidupan sehari-hari (misalnya, di rumah, pekerjaan, dan partisipasi dalam kehidupan masyarakat dan sebagai warga negara) dan kemampuan untuk menginterpretasi informasi kuantitatif yang terdapat di sekeliling kita. Kemampuan ini ditunjukkan dengan kenyamanan terhadap bilangan dan cakap menggunakan keterampilan matematika secara praktis untuk memenuhi tuntutan kehidupan. Kemampuan ini juga merujuk pada apresiasi dan pemahaman informasi yang dinyatakan secara matematis, misalnya grafik, bagan, dan tabel.
Literasi sains dapat diartikan sebagai pengetahuan dan kecakapan ilmiah untuk mampu mengidentifikasi pertanyaan, memperoleh pengetahuan baru, menjelaskan fenomena ilmiah, serta mengambil simpulan berdasar fakta, memahami karakteristik sains, kesadaran bagaimana sains dan teknologi membentuk lingkungan alam, intelektual, dan budaya, serta kemauan untuk terlibat dan peduli terhadap isu-isu yang terkait sains (OECD, 2016). National Research Council (2012) menyatakan bahwa rangkaian kompetensi ilmiah yang dibutuhkan pada literasi sains mencerminkan pandangan bahwa sains adalah ansambel dari praktik sosial dan epistemik yang umum pada semua ilmu pengetahuan, yang membingkai semua kompetensi sebagai tindakan.
Literasi finansial adalah pengetahuan dan kecakapan untuk mengaplikasikan pemahaman tentang konsep dan risiko, keterampilan agar dapat membuat keputusan yang efektif dalam konteks finansial untuk meningkatkan kesejahteraan finansial, baik individu maupun sosial, dan dapat berpartisipasi dalam lingkungan masyarakat. Selain itu, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) juga memberikan penekanan mengenai pentingnya inklusi finansial sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari literasi finansial. Pengertian inklusi finansial sendiri adalah sebuah proses yang menjamin kemudahan akses, ketersediaan, dan penggunaan sistem keuangan formal untuk semua individu.
Menurut Paul Gilster dalam bukunya yang berjudul Digital Literacy (1997), literasi digital diartikan sebagai kemampuan untuk memahami dan menggunakan informasi dalam berbagai bentuk dari berbagai sumber yang sangat luas yang diakses melalui piranti komputer.Bawden (2001) menawarkan pemahaman baru mengenai literasi digital yang berakar pada literasi komputer dan literasi informasi. Literasi komputer berkembang pada dekade 1980-an, ketika komputer mikro semakin luas dipergunakan, tidak saja di lingkungan bisnis, tetapi juga di masyarakat. Namun, literasi informasi baru menyebar luas pada dekade 1990-an manakala informasi semakin mudah disusun, diakses, disebarluaskan melalui teknologi informasi berjejaring. Dengan demikian, mengacu pada pendapat Bawden, literasi digital lebih banyak dikaitkan dengan keterampilan teknis mengakses, merangkai, memahami, dan menyebarluaskan informasi.
Literasi budaya merupakan kemampuan dalam memahami dan bersikap terhadap kebudayaan Indonesia sebagai identitas bangsa. Sementara itu, literasi kewargaan adalah kemampuan dalam memahami hak dan kewajiban sebagai warga negara. Dengan demikian, literasi budaya dan kewargaan merupakan kemampuan individu dan masyarakat dalam bersikap terhadap lingkungan sosialnya sebagai bagian dari suatu budaya dan bangsa. Literasi budaya dan kewargaan menjadi hal yang penting untuk dikuasai di abad ke-21. Indonesia memiliki beragam suku bangsa, bahasa, kebiasaaan, adat istiadat, kepercayaan, dan lapisan sosial. Sebagai bagian dari dunia, Indonesia pun turut terlibat dalam kancah perkembangan dan perubahan global. Oleh karena itu, kemampuan untuk menerima dan beradaptasi, serta bersikap secara bijaksana atas keberagaman ini menjadi sesuatu yang mutlak.