Jumat, 08 Maret 2019



Pada tahun 1966 di Vietnam sedang terjadi perang, analis militer Daniel Ellsberg bersama pasukan Amerika Serikat berada dalam pertempuran, mereka mendokumentasikan perkembangan kegiatan militer Amerika Serikat di wilayah tersebut untuk dilaporkan kepada Robert. Dalam perjalanan pulangnya, Robert memberitahu Daniel dan William tentang pandangannya bahwa perang yang terjadi di Vietnam sudah tidak ada harapan lagi, namun setelah mendarat, Robert menjelaskan kepada media pers bahwa ia memiliki keyakinan dalam upaya perang. Daniel sengaja mendengar hal ini dan ia kecewa.
Beberapa tahun kemudian, Daniel secara diam-diam menyalin dokumen tentang laporan keterlibatan negara Amerika Serikat selama beberapa tahun dalam konflik di Vietnam tersebut, saat masa pemerintahan Presiden Harry Truman. Daniel kemudian membocorkan dokumen-dokumen tersebut kepada para jurnalis The New York Times dan The Washington Post seta penerbit Pentagon Papers pada tahun 1971.
Katharine Graham yang merupakan pemilik dari penerbit The Washington Post khawatir tentang persiapan peluncuran surat kabar tersebut, tindakan yang diakuinya sangat penting untuk memperkuat stabilitas ekonomi surat kabar tersebut. Katharine tidak memiliki pengalaman dan sering dikesampingkan oleh orang-orang yang lebih tegas darinya, seperti kepala editor Ben Bradlee dan anggota dewan Arthur Parsons. Ben Bradlee sangat berusaha untuk menyamakan kemampuan The New York Times untuk mendapat beberapa berita pertama, meskipun hal itu sia-sia. Sementara itu, Robert, teman lama Katharine, mengakui bahwa dia akan menjadi subjek liputan yang tidak menarik oleh The New York Times. Kisah itu ternyata menjadi sebuah fakta kasus penipuan yang dilakukan oleh pemerintah Amerika Serikat yang sudah lama berjalan. Namun, kasus ini dihentikan oleh pengadilan terhadap publikasi lebih lanjut oleh The New York Times.
Asisten editor The Washington Post Ben Bagdikian melacak Daniel sebagai sumber kebocoran, yang memberikan Ben Bagdikian salinan dari materi yang sama yang diberikan kepada The New York Times. Sebuah tim jurnalis The Washington Post memilah tumpukan kertas dan mencari berita utama. Pengacara The Washington Post menyarankan agar tidak mempublikasikan berita tersebut dan berharap administrasi Presiden Richard Nixon tidak mengajukan tuntutan kriminal terhadap mereka. Katharine berdiskusi dengan Robert, Ben Bradlee dan ketua The Washington Post Fritz Beebe merasa bingung dalam mengambil keputusan untuk mempublikasikan berita tersebut atau tidak. Situasi menjadi semakin rumit ketika pengacara The Washington Post menemukan bahwa sumber Ben Bagdikian sama dengan The New York Times yang memiliki kemungkinan bahwa Katharine berada dalam penghinaan terhadap pengadilan. Jika tuntutan diajukan oleh tim jurnalis The New York Times, Katharine dapat menghancurkan surat kabar yang dilihatnya sebagai warisan keluarga. Sebaliknya, jika ia memenangkan tantangan hukum, The Washington Post malah bisa membangun dirinya sebagai lembaga jurnalistik yang terbaik. Katharine memilih untuk menerbitkan berita tersebut.
Kemudian waktu singkat The Washington Post dan The New York Times muncul bersama di hadapan Mahkamah Agung untuk mengajukan penjelasan Amendemen Pertama mereka atas hak penerbitan berita. Sementara itu, surat kabar di seluruh negeri mengangkat kisah solidaritas The Washington Post dan The New York Times. Pengadilan memutuskan mendukung surat kabar, menguatkan keputusan Katharine.

-----------------------------------------------SELESAI--------------------------------------------------


Tidak ada komentar:

Posting Komentar